Wednesday, June 22, 2016

Behavior Therapy

Behavior Therapy atau yang disebut dengan terapi perilaku adalah jenis terapi yang populer dan sudah sering kita dengar. Terapi ini muncul sebagai bentuk perlawanan terhadap psikoanalisa. Behavior Therapy memiliki konsep yang sangat berbeda dan berlawanan dengan terapi psikoanalisa. Arnold A. Lazarus adalah orang yang berkontribusi dalam behavioral therapy. Pendekatan behavioral muncul sejak tahun 1950 dan awal 1960 sebagai konsep radikal yang bertentangan dengan perspektif psikoanalisa yang dominan. Behavior therapy dapat dipahami dengan mempertimbangkan tiga area perkembangan, yaituclassical conditioning, operant conditioning dan cognitive therapy.

Tujuan Behavior Therapy

Tujuan dari terapi behavioristik adalah menciptakan suatu kondisi baru yang lebih baik melalui proses belajar sehingga perilaku simtomatik dapat dihilangkan. Sementara itu tujuan terapi behavioristik secara khusus adalah mengubah tingkah laku adaptif dengan cara memperkuat tingkah laku yang diharapkan dan meniadakan perilaku yang tidak diharapkan serta menemukan cara-cara bertingkah laku yang tepat.

Fungsi dan Peran Behavior Therapy

Terapis dalam behavioral therapy memegang peranan aktif dan direktif dalam pelaksanaan proses terapi. Dalam hal ini terapis harus mencari pemecahan masalah klien. Fungsi utama terapis adalah bertindak sebagai guru, pengarah, penasihat, konsultan, pemberi dukungan, fasilitator, dan mendiagnosis tingkah laku maladaptif klien dan mengubahnya menjadi tingkah laku adaptif. Terapis pada behavior therapy memperhatikan tanda-tanda apapun yang diberikan klien, dan mereka bersedia untuk mengikuti prosedur terapi. Terapis menggunakan teknik seperti summarizing, reflection, klarifikasi, dan pertanyaan terbuka. Akan tetapi terdapat dua fungsi yang membedakan klinisi behavioral: mereka fokus pada hal-hal spesifik, dan mereka secara sistematis berusaha untuk mendapatkan informasi tentang situasi antecedents, dimensi dari masalah-masalah perilaku, dan konsekuensi dari masalah.

Hubungan antara Terapi dan Klien

Hubungan terapi dalam konteks behavioral secara signifikan dapat berkontribusi dalam proses mengubah tingkah laku. Hubungan terapi yang baik dapat meningkatkan kesempatan klien untuk menerima terapi. Tidak hanya dari kerjasama klien dalam prosedur terapi, tetapi harapan positif klien mengenai efektifitas terapi juga berkontribusi terhadap hasil yang sukses. Kemampuan dan ketrampilan terapis behavior adalah salah satu yang dapat mengkonseptualisasikan masalah perilaku.
Behavior therapy idak terlalu menekankan peran hubungan dengan klien. Faktor-faktor seperti kehangatan, empati, keaslian, dan penerimaan juga butuh dipertimbangkan, namun tidaklah cukup dalam membuat terjadinya perubahan perilaku. Jadi dalam behavior therapy, peran hubungan sebagai hal yang mendasari strategi terapi dalam membantu klien berubah sesuai dengan arah yang ia harapkan.


Teknik-Teknik Behavior Therapy

A. Teknik-teknik Tingkah Laku Umum

  • Skedul penguatan adalah suatu teknik pemberian penguatan pada klien ketika tingkah laku yang baru selesai dipelajari dimunculkan oleh klien. Penguatan harus dilakukan terus-menerus sampai tingkah laku tersebut terbentuk dalam diri klien. Setelah terbentuk, frekuensi penguatan dapat dikurangi atau dilakukan pada saat-saat tertentu saja (tidak setiap kali perilaku baru dilakukan). Istilah ini sering disebut sebagai penguatan intermiten. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan tingkah laku baru yang telah terbentuk. Misalnya, klien yang mengalami kesulitan membaca akan diberikan pujian secara terus-menerus bila berhasil membaca. Tetapi setelah ia dapat membaca, pemberian pujian harus dikurangi.
  • Shaping adalah teknik terapi yang dilakukan dengan mempelajari tingkah laku baru secara bertahap. Terapis dapat membagi-bagi tingkah laku yang ingin dicapai dalam beberapa unit, kemudian mempelajarinya dalam unit-unit kecil.
  • Ekstingsi adalah teknik terapi berupa penghapusan penguatan agar tingkah laku maladaptif tidak berulang. Ini didasarkan pada pandangan bahwa individu tidak akan bersedia melakukan sesuatu apabila tidak mendapatkan keuntungan. Misalnya, seorang anak yang selalu menangis untuk mendapatkan yang diinginkannya. Terapis akan bertindak tidak memberi perhatian sehingga anak tersebut tidak akan menggunakan cara yang sama lagi untuk mendapatkan keinginannya.

B. Teknik-teknik Spesifik

1. Desentisasi Sistematik.

Teknik ini adalah teknik yang paling sering digunakan. Teknik ini diarahkan kepada klien untuk menampilkan respons yang tidak konsisten dengan kecemasan. Desentisasi sistematik melibatkan teknik relaksasi di mana klien diminta untuk menggambarkan situasi yang paling menimbulkan kecemasan sampai titik di mana klien tidak merasa cemas. Selama relaksasi, klien diminta untuk rileks secara fisik dan mental. Teknik ini cocok untuk menangani kasus fobia, ketakutan menghadapi ujian, ketakutan secara umum, kecemasan neurotik, impotensi, dan frigiditas seksual. ada tiga penyebab teknik desentisasi sistematik mengalami kegagalan, yaitu:
  • Klien mengalami kesulitan dalam relaksasi yang disebabkan karena komunikasi terapis dan klien yang tidak efektif atau karena hambatan ekstrem yang dialami klien.
  • Tingkatan yang menyesatkan atau tidak relevan, hal ini kemungkinan disebabkan karena penanganan tingkatan yang keliru.
  • Klien tidak mampu membayangkan

2. Pelatihan Asertivitas.

Teknik ini mengajarkan klien untuk membedakan tingkah laku agresif, pasif, dan asertif. Prosedur yang digunakan adalah permainan peran (role playing). Teknik ini dapat membantu klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan atau menegaskan diri di hadapan orang lain. Pelatihan asertif biasanya digunakan untuk kriteria klien sebagai berikut: 
  • Tidak mampu mengungkapkan kemarahan atau perasaan tersinggung. 
  • Menunjukkan kesopanan secara berlebihan dan selalu mendorong orang lain untuk mendahuluinya. 
  • Memiliki kesulitan untuk mengatakan tidak.
  • Mengalami kesulitan mengungkapkan afeksi dan respons positif lainnya. 
  • Merasa tidak memiliki hak untuk memiliki perasaan dan pikiran sendiri. 
Melalui teknik permainan peran, terapis akan memperlihatkan bagaimana kelemahan klien dalam situasi nyata. Kemudian klien akan diajarkan dan diberi penguatan untuk berani menegaskan diri di hadapan orang lain.

3. Time-Out. 

Merupakan teknik aversif yang sangat ringan. Apabila tingkah laku yang tidak diharapkan muncul, maka klien akan dipisahkan darireinforcement positif. Time-out akan lebih efektif bila dilakukan dalam waktu yang relatif singkat. Misalnya lima menit. Contoh kasus: seorang anak yang senang memukul adiknya akan dimasukkan dalam kamar gelap selama lima menit bila terlihat melakukan tindakan tersebut, karena takut akan dimasukkan ke kamar gelap kembali, biasanya anak akan menghentikan tindakan yang salah tersebut.

4. Implosion dan Flooding. 

Teknik implosion mengarahkan klien untuk membayangkan situasi stimulus yang mengancam secara berulang-ulang, karena dilakukan terus-menerus sementara konsekuensi yang menakutkan tidak terjadi, maka diharapkan kecemasan klien akan tereduksi atau terhapus. Terapi implosion adalah teknik yang menantang pasien untuk "menatap mimpi-mimpi buruknya." Ia menambahkan bahwa teknik implosion sangat bagus digunakan untuk pasien gangguan jiwa yang berada di rumah sakit, klien neurotik, klien psikotik, dan fobia. Sementara itu flooding merupakan teknik di mana terjadi pemunculan stimulus yang menghasilkan kecemasan secara berulang-ulang tanpa pemberian reinforcement. Klien akan membayangkan situasi dan terapis berusaha mempertahankan kecemasan klien tersebut.Flooding bersifat lebih ringan karena situasi yang menimbulkan kecemasan tidak menyebabkan konsekuensi yang parah.

Kelebihan dan Kelemahan Behavior Therapy

A. Kelebihan

  • Ada hasil konkrit/ nyata yang didapat (yaitu perubahan perilaku). Jika client centered therapy, humanistik, dll lebih bersifat abstrak dan menakankan pada insight yang diperoleh klien. 
  • Pembuatan tujuan terapi antara terapis dan klien di awal sesi terapi dan hal itu dijadikan acuan keberhasilan proses terapi.
  • Memiliki berbagai macam teknik konseling yang teruji dan selalu diperbaharui.
  • Waktu konseling relatif singkat.
  • Kolaborasi yang baik antara konselor dan konseli dalam penetapan tujuan dan pemilihan teknik.

B. Kelemahan

  • Dapat mengubah perilaku, tetapi tidak mengubah perasaan.
  • Mengabaikan faktor-faktor penting dalam hubungan terapi.
  • Tidak menimbulkan insight.
  • Lebih mementingkan memperlakukan simtom-simtomya daripada penyebab.
  • Meliputi kontrol dan manipulasi oleh terapis.

Sumber :

Corey, Gerald. (1996). Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy. USA: Brooks Cole.
Lubis, Lumongga Namora. (2011). Memahami Dasar-Dasar Konseling dalam Teori dan Praktik. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

No comments:

Post a Comment