Thursday, November 17, 2016

TAHAP ANALISIS DAN TAHAN PERANCANGAN SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI

TAHAP ANALISIS DAN TAHAN PERANCANGAN SISTEM INFORMASI PSIKOLOGI

I. Tahap Analisis
1. Identifkasi masalah
Tes IQ banyak digunakan oleh berbagai kalangan, misalnya pihak sekolah di SMA dalam menentukan jurusan. Hal ini dilakukan karena kemampuan IQ siswa berbeda-beda pada tingkatannya. Tes IQ yang biasa dilakukan adalah secara manual yang biasanya membutuhkan waktu yang cukup banyak untuk mengetahui hasil IQ. Selain itu banyak peserta tes sulit memahami untuk menghitung hasil tes IQ karena cukup rumit.
2. Analisis masalah
Guru-guru mendapat kesulitan dalam pemilihan jurusan sesuai kemampuan siswa. Guru hanya cenderung melihat siswa dari kesehariannya saja sehingga dalam pemilihan jurusannya terkadang kurang tepat, akibatnya sering terjadi siswa salah piih jurusan sesuai dengan keinginannya dan IQ nya. Oleh karena itu, dengan semakin berkembangnya teknologi maka mitra ingin megembangkan metode pemilihan jurusan berbasis komputer yang diuji berdasarkan tes IQ mereka dan bagaimana merancang sebuah sistem aplikasi yang memindahkan tes IQ secara manual ke dalam sistem digital atau berbasis komputer.
3. Analisis kebutuhan
  • Data : Pertanyaan-pertanyaan dari beberapa literatur untuk dijadikan soal dalam latihan tes IQ.
  • Fungsional : Ada jurusan yang disarankan, ada nilai IQ , ada keterangan normal atau tingginya IQ untuk user sesuai data yang dimasukan.
  • Non-fungsional : Sistem hanya dapat digunkan dikomputer saja, sistem tidak menyediakan pilihan tanggal regristrsi, tidak meyediakan pilihan kelas, soal tidak diacak sehingga user bisa bertukar jawaban
II. Tahap Peracangan
1. struktur Navigasi
Struktur navigasi yang digunakan adalah struktur navigasi Campuran, merupakan gabungan dari struktur sebelumnya dan disebut juga struktur navigasi bebas. Struktur ini gunakan paling banyak dalam aplikasi multimedia.
2. Interface
Digunakan untuk media komunikasi antara user dan program. Perancangan antar muka merupakan tahap akhir dari perancangan sistem, yaitu merancang formdan menu yang ada pada program serta menghubungkannya ke tabel database sehingga program data berjalan dengan baik. Teknik yang digunakan dalam interface tersebut adalah linguistic style. Linguistic Style adalah penyampaian aksi melalui bahasa yang dimengerti oleh computer, ciri-ciri teknik ini adalah: Masukan aksi melalui papan ketik alphabet yang ditulis atau diketik dan Bahasa yang dimengerti oleh computer merupakan bagian kecil dari Bahasa manusia. Setelah melihat ciri-ciri diatas menurut kelompok kami teknik interface yg digunakan adalah linguistic style.

Sunday, November 13, 2016

Analisis Jurnal Sistem Informasi Psikolog

Penulis : Ahyuma & Irmawati
Tahun : 2016
Judul : Perancangan aplikasi tes iq siswa untuk peetimbangan pemilihan jurusan dengan metode forward chaining
Jurnal : Citec Journal
Vol/hal :3

Analisis Jurnal Sistem Informasi Psikologi

1. Pendahuluan

Intelegensi merupukan salah satu modal penting untuk meraih kesuksesan, sedangkan tes intelegnsi dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kecerdasan seseorang.
Tes IQ banyak digunakan oleh berbagai kalangan, misalnya pihan sekolah di SMA dalam menentukan jurusan. Hal ini dilakukan karena kemampuan Iq siswa berbeda - beda pada tingkatannya.

2. konsep jenis tes IQ

a. Berdasarkan kelompok :

  • Tes informasi
  • Tes pengertian 
  • Tes hitungan 
  • Tes kemiripan
  • Tes rentang angka 
  • Perbendaharaan kata 

b. Berdasarkan sifaf pertanyaan

  • Tes dengan pertanyaan terbuka kemungkinan jawaban lebih dari satu.
  • Tes dengan pertanyaan tertutup, jawaban terbatas 

c. Perbedaan IQ dan TPA

  • IQ : pemeriksaan psikologi yang tujuannya hanya mengukur tingkat kecerdasan dan mengetahui pada tingkat mana seseorang, apakah suoerior, cerdas atau biasa saja.
  • TPA : adalah untuk mengetahui bakat dan kemampuan seseoranf dibidang akademis.
Saat ini TPA telah menjadi standar penyaringan CPNS, karyawan swasta dan karyawan BUMN.

3. Unified Modeling Language (UML)

Menurut prabowo pudjo widodo dan herlawati (2011 : 6) UML adalah sebuab bahasa untuk mmenentukan visualisasi, konstruksi dan mengodumentasikan artifact ( bagian dari informasi yang digunakan atau dihasilkan dalam suatu proses pembuatan perangkat lunak. Artifact dapat berubah model, deskripsi atau perangkat lunak).

a. Bagian UML :

  • View : untuk melihat sistem yang dimodelkan dari beberapa aspek yang berbeda.
  • Use case view : fungsional sistem yang seharusnya dilakukan sesuai yang diinginkan external aktor.
  • Logical view : fungsional dari ssistem struktur statis dan kelaborasi dinamjs yang terjadj ketika objek mengirim pesan ke objek lain dalam suatu fungsi tertentu.
  • Component view : mendeskripsikan implementasi dan ketergantungan modul.
  • Conxurrecy view : mendeskeipsikan fisik dari sistem seperti komputer dan bagaimana hubungan dengan lainnya.
  • Diagram : grafik yang menunjukan simbol elmen model yang disusun untuk mengilustrasikan bagian atau aspek tertentu dari sistem.

b. Metode

Alur penelitian :

Mengumpulkan soal ipa dan ips dari sekolah → memilih soal yang akan dijadikan tes → pembuatan aplikasi tes IQ → uji coba aplikasi pada sekolah → penentuan hasil jurusan.

Alur penelitian diatas menggunakan metode forward chaining adalah metode pencriann atau teknik pelacakan ke depan adalah data-driven yang dimulai dengan informasi yang ada dan penggabungan rule untuk menghasilkan suatu kesimpulan atau tujuan.

Analisa sistem yang diajukan :

Analisa disini seorang siswa melakukan secara komputerisasi. Cara dengan regristasi sebagai peserta setelah itu siswa login dan memulai tes secara online.


c. Hasil dan pembahasan

1) Hasil input dan output

  • Login administrator: Digunakan untuk login admin agar dapat mengakses soal - soal dan hasil tes.
  • Regristasi siswa: Digunakan untuk meregristasi data dari soswa yang akan ujian sebelum memulai tes.
  • Form tes: Berupa tes tes yang akan diujikan dimana nantinya akan mengasah kemampuan siswa. 

2) Evaluasi terhadap aplikasi IQ yang telah terbangun dalam penelitian

a) Aspek pengujian

Pengujian ini meliputi white box adalah pengujian yang didasarkan pada pengecekan terhadap detail perancangan. Menggunakan struktur kontrol dari desain program secara procedural untuk membagi pengujian ke dalam beberapa kasus pengujian ( febriyanno suryana : 2011 )

b) Mekanisme uji coba

Menggunaka. Lengkah - langkah dari teknik pengujian basis path sebagai berikut :
  • Buat flowcart ke flowgraph 
  • Transformasi flowcart ke flowgraph 
  • Tentukan cyclomatic complexity (CC), Region (R) dan independent path (IP) dari flowcart ke flowgraph 
  • Akan disimpulkan bahwa modul sudah aman dari kesalahan logika jika nilai CC = R = IP
Dengan menggunakan metode pengujian white box perakayasa sistem dapat melakukan test case yang dapat:
  • Memberikan jaminan jalur Independent pada suatu modul telah digunakan paling tidak satu kali.
  • Menggunakan semua keputusan logis pada sisi true dan false.
  • Mengeksekusi semua loop pada batasan masalah dan operasional masalah.
  • Menggunakan struktur data internet untuk menjamin validitasnya.

c) Skenario uji coba

Jika hasil CC, IP dan R = bernilai sama berati pengujian sistem sudah benar dengan alur logika.

d) Hasil uji coba

Kesimpulan dari rekapitulasi penghitungan diatas didapat jumlah CC = 11, R = 11 dan IP = 11. Karena jumlah tiga parameter ini sama.

B. Kelebihan

  1. Memudahkan siswa untuk memilih jurusan yang akan ia pilih nantinya
  2. Lebih menghemat waktu karena dilakukan dengan cara kelompok bukan individual.

C. KEKURANGAN

  1. Terlihat rumit karena menggunakan metode forward chaining.
  2. Sewaktu-waktu jaringan internet bisa jadi bermasalah dan bisa saja terjadi error pada system.

DAFTAR PUSTAKA

Ahyuna & Irmawati. (2016). Perancangan Aplikasi Tes IQ Siswa untuk Pertimbangan Pemilihan Jurusan dengan Metode Forward Chaining. Citec Journal. 3(2). 102-112.

Saturday, October 29, 2016

Tes IQ Secara Manual Vs Komputer

Tes intelegensi atau tes IQ adalah suatu kegiatan pengukuran atau penilaian melalui upaya yang sistematik untuk mengungkap aspek-aspek psikologi tertentu dari individu. Yang termasuk tes intelegensi itu seperti tes binet, WAIS, APM, CFIT, dll. Tes intelegensi sering digunakan berbagai kalangan seperti di sekolah dalam menentukan jurusan atau di perkantoran dalam seleksi pegawai. Tes intelegensi ini dapat dilakukan secara manual dan komputer .

Tes IQ secara manual

Tes IQ yang biasa dilakukan adalah secara manual. Tes ini biasanya dilakukan secara individu atau kelompok disuatu ruangan. Peserta diminta menjawab pertanyaan terbuka atau tertutup. Jawaban bisa ditulis oleh testee maupun tester. Setelah tes selesai kemudian tester melakukan scoring. Pada tahap scoring ini tester membutuhkan waktu lama, karena tester harus memeriksa satu per satu jawaban yang dijawab testee. Setelah dilakukan scoring dilakukan interpretasi oleh psikolog.

Tes IQ melalui komputer

Tes IQ yang dilakukan melalui komputer dapat memudahkan testee dalam pengisian tes, karena testee tidak diharuskan membawa alat tulis. Testee diminta untuk mengerjaan pertanyaan terbuka atau tertutup melalui sebuah aplikasi di komputer. Setelah testee menjawab semua pertanyaan yang ada, barulah tester mulai melakukan scoring melalui computer pula. Pengerjaan dan proses scoring sangatlah mudah, hanya dengan beberapa klik saja sudah mendapatkan hasil. Tes IQ melalui komputer sudah terprogram dengan baik dan meminimalisir kesalahan saat mengerjakan tes IQ.

Sumber:

Ahyuna & Irmawati. (2016). Perancangan aplikasites iq siswa untuk pertimbangan pemilihan jurusan dengan metode forward chaining. Citec journal. 3(2), 102-112.
Kaufan, A. S. (2009). Iq testing 101. New York: Springer publishing company.

Wednesday, June 22, 2016

Behavior Therapy

Behavior Therapy atau yang disebut dengan terapi perilaku adalah jenis terapi yang populer dan sudah sering kita dengar. Terapi ini muncul sebagai bentuk perlawanan terhadap psikoanalisa. Behavior Therapy memiliki konsep yang sangat berbeda dan berlawanan dengan terapi psikoanalisa. Arnold A. Lazarus adalah orang yang berkontribusi dalam behavioral therapy. Pendekatan behavioral muncul sejak tahun 1950 dan awal 1960 sebagai konsep radikal yang bertentangan dengan perspektif psikoanalisa yang dominan. Behavior therapy dapat dipahami dengan mempertimbangkan tiga area perkembangan, yaituclassical conditioning, operant conditioning dan cognitive therapy.

Tujuan Behavior Therapy

Tujuan dari terapi behavioristik adalah menciptakan suatu kondisi baru yang lebih baik melalui proses belajar sehingga perilaku simtomatik dapat dihilangkan. Sementara itu tujuan terapi behavioristik secara khusus adalah mengubah tingkah laku adaptif dengan cara memperkuat tingkah laku yang diharapkan dan meniadakan perilaku yang tidak diharapkan serta menemukan cara-cara bertingkah laku yang tepat.

Fungsi dan Peran Behavior Therapy

Terapis dalam behavioral therapy memegang peranan aktif dan direktif dalam pelaksanaan proses terapi. Dalam hal ini terapis harus mencari pemecahan masalah klien. Fungsi utama terapis adalah bertindak sebagai guru, pengarah, penasihat, konsultan, pemberi dukungan, fasilitator, dan mendiagnosis tingkah laku maladaptif klien dan mengubahnya menjadi tingkah laku adaptif. Terapis pada behavior therapy memperhatikan tanda-tanda apapun yang diberikan klien, dan mereka bersedia untuk mengikuti prosedur terapi. Terapis menggunakan teknik seperti summarizing, reflection, klarifikasi, dan pertanyaan terbuka. Akan tetapi terdapat dua fungsi yang membedakan klinisi behavioral: mereka fokus pada hal-hal spesifik, dan mereka secara sistematis berusaha untuk mendapatkan informasi tentang situasi antecedents, dimensi dari masalah-masalah perilaku, dan konsekuensi dari masalah.

Hubungan antara Terapi dan Klien

Hubungan terapi dalam konteks behavioral secara signifikan dapat berkontribusi dalam proses mengubah tingkah laku. Hubungan terapi yang baik dapat meningkatkan kesempatan klien untuk menerima terapi. Tidak hanya dari kerjasama klien dalam prosedur terapi, tetapi harapan positif klien mengenai efektifitas terapi juga berkontribusi terhadap hasil yang sukses. Kemampuan dan ketrampilan terapis behavior adalah salah satu yang dapat mengkonseptualisasikan masalah perilaku.
Behavior therapy idak terlalu menekankan peran hubungan dengan klien. Faktor-faktor seperti kehangatan, empati, keaslian, dan penerimaan juga butuh dipertimbangkan, namun tidaklah cukup dalam membuat terjadinya perubahan perilaku. Jadi dalam behavior therapy, peran hubungan sebagai hal yang mendasari strategi terapi dalam membantu klien berubah sesuai dengan arah yang ia harapkan.


Teknik-Teknik Behavior Therapy

A. Teknik-teknik Tingkah Laku Umum

  • Skedul penguatan adalah suatu teknik pemberian penguatan pada klien ketika tingkah laku yang baru selesai dipelajari dimunculkan oleh klien. Penguatan harus dilakukan terus-menerus sampai tingkah laku tersebut terbentuk dalam diri klien. Setelah terbentuk, frekuensi penguatan dapat dikurangi atau dilakukan pada saat-saat tertentu saja (tidak setiap kali perilaku baru dilakukan). Istilah ini sering disebut sebagai penguatan intermiten. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan tingkah laku baru yang telah terbentuk. Misalnya, klien yang mengalami kesulitan membaca akan diberikan pujian secara terus-menerus bila berhasil membaca. Tetapi setelah ia dapat membaca, pemberian pujian harus dikurangi.
  • Shaping adalah teknik terapi yang dilakukan dengan mempelajari tingkah laku baru secara bertahap. Terapis dapat membagi-bagi tingkah laku yang ingin dicapai dalam beberapa unit, kemudian mempelajarinya dalam unit-unit kecil.
  • Ekstingsi adalah teknik terapi berupa penghapusan penguatan agar tingkah laku maladaptif tidak berulang. Ini didasarkan pada pandangan bahwa individu tidak akan bersedia melakukan sesuatu apabila tidak mendapatkan keuntungan. Misalnya, seorang anak yang selalu menangis untuk mendapatkan yang diinginkannya. Terapis akan bertindak tidak memberi perhatian sehingga anak tersebut tidak akan menggunakan cara yang sama lagi untuk mendapatkan keinginannya.

B. Teknik-teknik Spesifik

1. Desentisasi Sistematik.

Teknik ini adalah teknik yang paling sering digunakan. Teknik ini diarahkan kepada klien untuk menampilkan respons yang tidak konsisten dengan kecemasan. Desentisasi sistematik melibatkan teknik relaksasi di mana klien diminta untuk menggambarkan situasi yang paling menimbulkan kecemasan sampai titik di mana klien tidak merasa cemas. Selama relaksasi, klien diminta untuk rileks secara fisik dan mental. Teknik ini cocok untuk menangani kasus fobia, ketakutan menghadapi ujian, ketakutan secara umum, kecemasan neurotik, impotensi, dan frigiditas seksual. ada tiga penyebab teknik desentisasi sistematik mengalami kegagalan, yaitu:
  • Klien mengalami kesulitan dalam relaksasi yang disebabkan karena komunikasi terapis dan klien yang tidak efektif atau karena hambatan ekstrem yang dialami klien.
  • Tingkatan yang menyesatkan atau tidak relevan, hal ini kemungkinan disebabkan karena penanganan tingkatan yang keliru.
  • Klien tidak mampu membayangkan

2. Pelatihan Asertivitas.

Teknik ini mengajarkan klien untuk membedakan tingkah laku agresif, pasif, dan asertif. Prosedur yang digunakan adalah permainan peran (role playing). Teknik ini dapat membantu klien yang mengalami kesulitan untuk menyatakan atau menegaskan diri di hadapan orang lain. Pelatihan asertif biasanya digunakan untuk kriteria klien sebagai berikut: 
  • Tidak mampu mengungkapkan kemarahan atau perasaan tersinggung. 
  • Menunjukkan kesopanan secara berlebihan dan selalu mendorong orang lain untuk mendahuluinya. 
  • Memiliki kesulitan untuk mengatakan tidak.
  • Mengalami kesulitan mengungkapkan afeksi dan respons positif lainnya. 
  • Merasa tidak memiliki hak untuk memiliki perasaan dan pikiran sendiri. 
Melalui teknik permainan peran, terapis akan memperlihatkan bagaimana kelemahan klien dalam situasi nyata. Kemudian klien akan diajarkan dan diberi penguatan untuk berani menegaskan diri di hadapan orang lain.

3. Time-Out. 

Merupakan teknik aversif yang sangat ringan. Apabila tingkah laku yang tidak diharapkan muncul, maka klien akan dipisahkan darireinforcement positif. Time-out akan lebih efektif bila dilakukan dalam waktu yang relatif singkat. Misalnya lima menit. Contoh kasus: seorang anak yang senang memukul adiknya akan dimasukkan dalam kamar gelap selama lima menit bila terlihat melakukan tindakan tersebut, karena takut akan dimasukkan ke kamar gelap kembali, biasanya anak akan menghentikan tindakan yang salah tersebut.

4. Implosion dan Flooding. 

Teknik implosion mengarahkan klien untuk membayangkan situasi stimulus yang mengancam secara berulang-ulang, karena dilakukan terus-menerus sementara konsekuensi yang menakutkan tidak terjadi, maka diharapkan kecemasan klien akan tereduksi atau terhapus. Terapi implosion adalah teknik yang menantang pasien untuk "menatap mimpi-mimpi buruknya." Ia menambahkan bahwa teknik implosion sangat bagus digunakan untuk pasien gangguan jiwa yang berada di rumah sakit, klien neurotik, klien psikotik, dan fobia. Sementara itu flooding merupakan teknik di mana terjadi pemunculan stimulus yang menghasilkan kecemasan secara berulang-ulang tanpa pemberian reinforcement. Klien akan membayangkan situasi dan terapis berusaha mempertahankan kecemasan klien tersebut.Flooding bersifat lebih ringan karena situasi yang menimbulkan kecemasan tidak menyebabkan konsekuensi yang parah.

Kelebihan dan Kelemahan Behavior Therapy

A. Kelebihan

  • Ada hasil konkrit/ nyata yang didapat (yaitu perubahan perilaku). Jika client centered therapy, humanistik, dll lebih bersifat abstrak dan menakankan pada insight yang diperoleh klien. 
  • Pembuatan tujuan terapi antara terapis dan klien di awal sesi terapi dan hal itu dijadikan acuan keberhasilan proses terapi.
  • Memiliki berbagai macam teknik konseling yang teruji dan selalu diperbaharui.
  • Waktu konseling relatif singkat.
  • Kolaborasi yang baik antara konselor dan konseli dalam penetapan tujuan dan pemilihan teknik.

B. Kelemahan

  • Dapat mengubah perilaku, tetapi tidak mengubah perasaan.
  • Mengabaikan faktor-faktor penting dalam hubungan terapi.
  • Tidak menimbulkan insight.
  • Lebih mementingkan memperlakukan simtom-simtomya daripada penyebab.
  • Meliputi kontrol dan manipulasi oleh terapis.

Sumber :

Corey, Gerald. (1996). Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy. USA: Brooks Cole.
Lubis, Lumongga Namora. (2011). Memahami Dasar-Dasar Konseling dalam Teori dan Praktik. Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Saturday, April 30, 2016

Terapi Humanistik

A. Psikologi Humanistik
     Perbedaan psikologi humanistik dengan tiga aliran utama psikologi, diawali dari tokoh-tokoh utama psikologi humanistik, yaitu Maslow yang mengemukakan teori hierarki kebutuhan manusia, Rogers yang memperkenalkan client-centered therapy, dan Rollo May yang mendalami pemanfaatan filsafat eksistensialisme dan fenomenologi pada kajian masalah-masalah psikologi.
     Psikologi humanistik terutama berorientasi pada nilai-nilai manusia. Maslow dan Rogers, misalnya, berpandangan bahwa perkembangan manusia mengarah pada aktualisasi diri. Karena itu, menurut mereka pada dasarnya manusia ini mempunyai kekuatan intrinsik yang pada hakikatnya mengarahkan dia untuk menjadi baik. Namun pandangan ini ditentang oleh beberapa tokoh psikologi humanistik yang menyatakan sebaliknya.
     Bebetapa istilah lain dari Kekuatan Ketiga yaitu : 'self-awareness movement' (karena kesadaran diri menjadi salah satu kunci dalam psikologi humanistik), 'human potential movement' (karena ditujukan untuk selalu lebih memanfaatkan poteni manusia sepenuhnya), 'personal growth' (karena didasarkan pada keyakinan bahwa manusia dapat berkembang dari batas yang ia yakini sebelumnya, jika ia memperoleh kesempatan yang tepat dan diberi keleluasaan pengambangan diri).

B. Teknik-teknik Terapi Humanistik
     Secara tradisional, terapi hanya diperuntukkan untuk menangani orang-orang yang mengalami gangguan emoional atau penderita neurotik atau psikotik. Terapi humanistik juga dilakukan untuk orang-orang yang “sehat” atau populasi normal, yang menginginkan pertumbuhan pribadi yang lebih penuh. Jenis-jenis terapi humanistik adalah : 
1. Person-Centered Therapy (Carl R. Rogers)
    Manifestasi teori kepribadian dalam keyakinan terhadap pendekatan PCT terdapat tiga kondisi yang membentuk iklim yang meningkatkan pertumbuhan tersebut, yaitu: (1) genuineness, realness or cogruence, (2) acceptance or caring or prizing – unconditional positive regard, dan (3) empathic understanding.
Teknik ini dipakai secara lebih terbatas pada terapi mahasiswa dan orang-orang dewasa muda lain yang mengalami masalah-maalah penyesuaian diri yang sederhana. Carl Rogers berpendapat bahwa orang-orang memiliki kecenderungan dasar yang mendorong mereka ke arah pertumbuhan dan pemenuhan diri. Dalam pandangan Rogers gangguan-gangguan psikologis pada umumnya terjadi karena orang-orang lain menghambat individu dalam perjalanan menuju aktualisasi diri.

2. Gestalt Therapy (Fritz Perls)
    Terapi Gestalt dipelopori oleh Frederich (Fritz) Solomon Perls (1893-1970), seorang dokter yang mendalami psikoanalisis. Meskipun demikian, hal itu tidak membuatnya gentar untuk berpikir kritis terhadap konsep psikoanalisis.
    Terapi Gestalt merupakan bentuk terapi yang merupakan refleksi berbagai ragam pemikiran antara lain Psikoanalisis, Reichian character analysis, Jung annalistic theory, Zen Buddism, Taoism, filsafat eksistensialisme, psikodrama. Prinsip yang ada pada terapi ini adalah setiap individu harus menemukan jalan hidupnya sendiri dan menemukan tanggung jawab pribadi bila ingin mencapai kematangan. Penekanan terapi Gestalt adalah pada perubahan perilaku.
    Asumsi dasar terapi ini adalah adanya anggapan bahwa individu memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalahnya sendiri, cakap dalam mengambil keputusan pribadi, mampu mengambil keputusan terbaik bagi aktualisasi diri secara mandiri, memiliki potensi, identitas dan keunikan diri, selalu tumbuh dan mampu berubah. Tugas utama terapis adalah membantu klien mengalami sepenuhnya keberadaannya disini dan sekarang (here and now).

3. Transactional Analysis (Eric Berne)
    Terapi ini dikembangkan oleh Eric Berne. Sebagai dokter jiwa, Berne mendapatkan tugas untuk memeriksa kesehatan mental ratusan prajurit Amerika. Untuk itu ia memiliki waktu yang terbatas. Sehubungan dengan hal tersebut, Eric mengembangkan metode yang cepat dan praktis guna mengenali kondisi mental para prajurit. Berdasarkan metode yang diterapkan ini, ternyata ia mampu mengenali karakteristik para prajurit dalam waktu singkat. Berdasarkan metode yang serupa dikembangkan Transactional Analysis Therapy atau terapiAnalisis Transaksional (A. T.) Analisis Transaksional merupakan bentuk terapi yang lebih memfokuskan pada kemampuan individu untuk mengambil keputusan baru. Terapi ini menekankan aspek kognitif-rasional-behavioral dalam membuat keputusan baru.

4. Rational-Emotive Therapy (Albert Ellis.
    Menurut Albert Ellis, manusia pada dasarnya adalah unik yang memiliki kecenderungan untuk berpikir rasional dan irasional. Ketika berpikir dan bertingkahlaku rasional manusia akan efektif, bahagia, dan kompeten. Ketika berpikir dan bertingkahlaku irasional individu itu menjadi tidak efektif. Reaksi emosional seseorang sebagian besar disebabkan oleh evaluasi, interpretasi, dan filosofi yang disadari maupun tidak disadari. Hambatan psikologis atau emosional tersebut merupakan akibat dari cara berpikir yang tidak logis dan irasional, yang mana emosi yang menyertai individu dalam berpikir penuh dengan prasangka, sangat personal, dan irasional.
    Berpikir irasional ini diawali dengan belajar secara tidak logis yang biasanya diperoleh dari orang tua dan budaya tempat dibesarkan. Berpikir secara irasional akan tercermin dari kata-kata yang digunakan. Kata-kata yang tidak logis menunjukkan cara berpikir yang salah dan kata-kata yang tepat menunjukkan cara berpikir yang tepat. Perasaan dan pikiran negatif serta penolakan diri harus dilawan dengan cara berpikir yang rasional dan logis, yang dapat diterima menurut akal sehat, serta menggunakan cara verbalisasi yang rasional.

5. Existential Analysis (Rollo May, James F. T. Bugental) dan Logotherapy (Viktor Frankl)
    Konsep dasar terapi eksistensial adalah mengubah konsep berpikir, dari kondisi merasa lemah dan tidak berdaya menjadi lebih bertanggung jawab dan mampu mengontrol kehidupannya sendiri, menemukan jati dirinya, sehingga menemukan kesadaran diri sendiri yang dapat mengeliminasi perasaan tidak berarti (not being) sedangkan perasaan tidak berarti ini biasanya muncul dalam kondisimerasa tidak berdaya, rasa bersalah , putus asa dsb. Konsep teori eksistensialis bukan merupakan sistem terapi yang komprehensif, eksistensialis memandang proses terapi dari sudut pandang suatu paradigma untuk memahami dan mengerti kondisi individu yang sedang bermasalah. Oleh karena itu, terapi eksistensialis memandang klien sebagai manusia bukan sekadar aspek pola perilaku beserta mekanismenya.

C. Kegunaan Terapi Humanistik 
     Pandangan Humanistik mempunyai orientasi nilai yang berpegang pada pandangan optimistis dan konstruktif tentang manusia dan kapasitas dasar mereka untuk dapat menentukan diri sendiri (self-determining). Psikologi Humanistik didasari oleh keyakinan bahwa kekuatan niat (intentionality) dan nilai-nilai etis merupakan kekuatan-kekuatan psikologis yang penting, sebagai bagian dari penentu dasar perilaku manusia.
    Praktik terapi humanistik selalu diarahkan pada upaya untuk meningkatkan kesadaran akan kekuatan pilihan pribadi, namun tetap memperhatikan keefektifan kelompok-kelompok sosial.
    Tujuan utama terapi humanistik adalah membawa individu untuk mengenali dorongan alamiah (innate tendency) untuk meningkatkan dirinya agar mengarah pada pertumbuhan (growth), kematangan (maturity) dan pengayaan hidup (life enrichment), juga mendorong individu untuk termotivasi dalam pengaktualisasi diri mereka.
 D. Terapi yang disukai
      Dari 5 jenis terapi yang jelaskan diatas yang paling saya sukai adalah yang pertama yaitu
Person-Centered Therapy (Carl R. Rogers) karena terapi ini melakukan pendekatan terlebih dahulu sebelum melakukan terapi. Karena jika kita sudah merasa nyaman dengan terapis maka terapi pun akan berjalan dengan lancar.

Sumber : 
Papalia, DE, Olds dan Feldman. (2009). Human Development Eleventh Edition. New York: McGraw-Hill
http://gierevolusi.blogspot.com/2012/04/review-buku-terapi-humanistik.html
http://books.google.co.id/books?id=buwj_j_4mukC&pg=PA354&lpg=PA354&dq=%22terapi+humanistik%22&source=bl&ots=LR_OS0c5Uv&sig=f1f6q_w2h0noPVFmvXDgEeYsSwY&hl=en&sa=X&ei=jPVOUaTdE8OXrge26YCoBQ&redir_esc=y#v=onepage&q=%22terapi%20humanistik%22&f=false

Sunday, April 24, 2016

TERAPI HUMANISTIK

Dian Octavian Santoso (3pa10)
125-133-73


A. Pengertian

Terapi humanistik adalah terapi eksistensial humanistik adalah terapi yang sesuai dalam memberikan bantuan kepada klien. Karena teori ini mencakup pengakuan eksistensialisme terhadap kekacauan, keniscayaan, keputusasaan manusia kedalam dunia tempat dia bertanggung jawab atas dirinya . Menurut kartini kartono dalam kamus psikologinya mengatakan bahwa terapi eksistensial humanistik adalah salah satu psikoterapi yang menekankan pengalaman subyektif individual kemauan bebas, serta kemampuan yang ada untuk menentukan satu arah baru dalam hidup. 

B. Kelebihan dan Kekurangan Terapi Humanistik Eksistential

Setiap terapi memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Demikian juga dengan terapi humanistik yang akan dibahas dibawah ini : 

1. Kelebihan

  • Teknik ini dapat digunakan bagi klien yang mengalami kekurangan dalam perkembangan dan kepercayaan diri.
  • Adanya kebebasan klien untuk mengambil keputusan sendiri.
  • Memanusiakan manusia.
  • Bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, analisis terhadap fenomena sosial.
  • Cocok digunakan pada perkembangan klien seperti masalah karier, kegagalan dalam perkawinan, pengucilan dalam pergaulan ataupun masa transisi dalam perkembangan dari remaja menjadi dewasa

2. Kelemahan

  • Dalam metodologi, bahasa dan konsepnya yang mistikal
  • Dalam pelaksanaannya tidak memiliki teknik yang tegas.
  • Terlalu percaya pada kemampuan klien dalam mengatasi masalahnya (keputusan ditentukan oleh klien sendiri)
  • Memakan waktu lama.


REFRENSI

  • http://idolakonseling.weebly.com/uploads/1/1/2/5/11253075/teori_eksistensial-humanistik.pdf
  • http://digilib.uinsby.ac.id/10126/6/bab%202.pdf
  • https://books.google.co.id/books?id=buwj_j_4mukC&pg=PA354&lpg=PA354&dq=Terapi+Humanistik+Eksistensial&source=bl&ots=LSZSV3b4Xx&sig=JC4N0a3MYWFepslo16h4b6qfh1A&hl=ban&sa=X&ved=0ahUKEwjQyt_l287LAhVEB44KHR4mAPo4ChDoAQgYMAA#v=onepage&q=Terapi%20Humanistik%20Eksistensial&f=falseGunarsa, Singgih. D. (1996). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia.

Monday, March 21, 2016

Metode Psikoterapi

Dian Octavian.S
125-133-73

Di post saya sebelumnya saya membahas psikoterapi beserta kelebihan dan kekurangannya.
kali ini saya membahas langsung pada 5 Metode Psikoterapi beserta yang saya sukai dan alasanya.



5 metode sikoterapi : 

1.      Asosiasi Bebas
adalah teknik yang memberi kebebasan pada klien untuk mengatakan apa saja perasaan, pemikiran, dan renungan yang ada dalam pikirannya tanpa ada yang disembunyikan. Melalui teknik ini, klien diharapkan mampu melepaskan emosi yang berkaitan dengan pengalaman traumatik di masa lau yang terpendam (katarsis). Katarsis inilah yang mendorong klien memperoleh pemahaman dan evaluasi diri yang lebih objektif. Tugas terapis disini adalah memahami hal-hal yang di represi dan hanyut ke alam bawah sadar. Selanjutnya terapis akan menafsirkan hal tersebut dan menyampaikannya pada klien. Setelah itu, membimbing ke arah pemahaman dinamika kepribadian yang tidak disadari oleh klien.
 
2.      Analisis mimpi
Freud menilai mimpi sebagai jalan istimewa menuju ketidaksadaran karena melalui mimpi, hasrat, kebutuhan dan ketakutan yang di pendam akan mudah diungkapkan. Pada saat klien tidur, pertahanan egonya akan melemah sehingga perasaan yang ditekan akan muncul ke alam sadar. Analisis mimpi memungkinkan terapis untuk mengetahui masalah-masalah yang tidak terselesaikan oleh klien. Pada dasarnya mimpi memiliki 2 taraf isi, yaitu isi laten dan isi manifes. Isi laten terdiri dari motif yang disamarkan, tersembunyi dan bersifat simbolik karena terlalu menyakitkan dan mengancam seperti dorongan seksual dan agresif. Sementara itu, isi manifes terdiri dari bentuk mimpi yang tampil dalam impian klien. Tugas terapis disini adalah menyingkap makna yang disamarkan dengan mempelajari simbol-simbol dari isi manifes mimpi, sehingga dapat diketahui isi laten klien. 

3.      Analisis Resistensi
Resistensi dipandang oleh Freud sebagai pertahanan klien terhadap kecemasan yang akan meningkat jika klien menjadi sadar atas dorongan dan perasaan yang direpresinya. Hal ini akan menghambat terapis dan klien memperoleh pemahaman dinamika ketidaksadaran klien. Jika terjadi resistensi, terapis harus membangkitkan perhatian klien dan menafsirkan resistensi yang paling terlihat untuk mengurangi kemungkinan klien menolak penafsiran. Resistensi dapat menghambat kemampuan klien untuk mengalami kehidupan yang lebih memuaskan sehingga sebisa mungkin terapis harus dapat memberi pemahaman pada klien agar membuka tabir resistensinya.

4.      Analisis Transferensi
Transferensi merupakan reaksi klien yang melihat terapis sebagai orang yang paling dekat dan penting dalam hidupnya di masa lalu. Sebagian besar terapis akan mengembangkan neurosis transferensi yang dialami klien di lima tahun pertama kehidupannya. Untuk itu terapis harus melakukannya secara netral, objektif, anonim dan pasif. Teknik ini akan mendorong klien menghidupkan kemabali masa lalunya sehingga memberi pemahaman pada klien mengenai pengaruh masa lalunya terhadap kehidupannya saat ini. Melalui transferensi, klien juga mampu menyadari konflik masa lalu yang masih dipertahankannya sampai sekarang.

5.      Interpretasi (Penafsiran)
Interpretasi merupakan prosedur dasar yang mencakup analisis terhadap asosiasi bebas, analisis mimpi, analisis resistensi, dan analisis transferensi. Terapis akan menyampaikan sekaligus memberi pemahaman pada klien mengenai makna dari tingkah laku klien yang dimanifestasikan melalui keempat teknik psikoanalisis tersebut. Tujuan dari penafsiran ini adalah agar mendororng ego klien untuk megasimilasi hal-hal baru dan mempercepat proses penyingkapan hal-hal yang tidak disadari. Penafsiran harus disampaikan pada saat yang tepat agar dapat diterima klien sebagai bagian dari dirinya.

Nah, ini adalah 5 metode dari post saya sebelumnya. Dari semua metode ini yang paling saya sukai adalah "Asosiasi bebas" kenapa asosiasi bebas ? 
karena metode tersebut memberikan kelonggaran atau kebebasan pada klien untuk bercerita pengalaman dimasa lampau tentang emosinya atau trauma pada klien sehingga terbawa sampai dewasa. Metode ini akan membuat klien leluasa untuk menceritakan semua pengalamannya sehingga terapis pun akan mudah menafsirkan jika ceritanya jelas dan memberi arahan pada klien pun tidak akan terlalu sulit.

terimakasih. jika ada yang ingin menambhan silahkan komentarnya...